Ayah Rumah Tangga

Banyak orang mengira bahwa penjaga utama anak-anak yang terbaik adalah ibunya. Hal itu seringkali membuat beban para wanita bertambah sebagai ibu sehingga ia yang paling sering disalahkan ketika ada kejadian tertentu yang tidak mengenakkan,Padahal, ayah pun bisa jadi penjaga sekaligus pendidik yang baik untuk anak-anak. Padahal, ayah pun bisa jadi penjaga sekaligus pendidik yang baik untuk anak-anak.

Di era sekarang menjadi ayah rumah tangga bukan lah pekerjaan buruk bagi para suami, kenapa tidak? Meski kadang menimbulkan dilema dogma masyarakat, apalagi kita hidup di badaya Asia tentu itu menjadi hal yang kurang begitu baik di mata keluarga dan masyarakat, padahal banyak keuntungan diraih dengan menjadi “ayah rumah tangga” yaitu punya banyak waktu untuk anak dan keluarga.

Mungkin tak pernah terbayang sebelumnya, sebagai seorang kepala keluarga, suami harus tinggal di rumah untuk menggantikan peranan istri sebagai sebagai ibu rumah tangga Menjaga anak, melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara umumnya para suami pergi mencari nafkah, tapi menurut saya dalam sebuah hubungan pernikahan, komitmen waktu untuk keluarga itu yang sebernaya penting di samping pekerjaan, mungkin istri lebih dominan akan karirnya, dan suami juga sudah berusaha mencari pekerjaan tapi tidak mendapatkan hasil, kalau istri juga punya karir dan gaji yang bagus jadi buat apa juga keduany bekerja, lebih baik salah satu menjaga keutuhan sebuah keluarga, bukan untuk mengakali istri , tapi lebih karena keadaan.

Ketimpangan penghasilan kadang menjadi masalah tersendiri. Jika penghasilan istri lebih banyak dari ayah sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk membayar baby sitter juga tinggi, mengapa anak tidak dijaga oleh ayahnya saja, seperti halnya ibu rumah tangga yang menolak dikatakan sebagai seorang pengangguran, ayah rumah tangga pun begitu. Menjadi ayah rumah tangga akan sama sibuknya dengan para ibu rumah tangga, mengapa ada saja yang menganggap mereka adalah lelaki pengangguran?

Persepsi

Baik/buruk, benar/salah, hitam/putih semua tergantung dan di tentukan oleh persepsi dan dari sudut pandang mana orang itu berdiri, tidak ada yang salah dengan semua itu, yang salah hanya jika kita memakasakan persepsi kita ke orang yang berbeda persepsi itu sendiri, yang dapat menimbulkan  pertikaian,  bahkan sudah sejak dulu sampai sekarang selalu menjadi bagian kehidupan manusia, bukan kah akan menjadi damai jika kita hidup dengan persepsi kita masing2, tanpa memaksakan persepsi kita, baik menurut kita, bisa menjadi buruk menurut persepsi orang lain, bahkan kebenaran pun di tentukan oleh persepsi, padahal kebenaran itu mutlak adanya.